Selamat datang di Website SMP Negeri 1 Weru Sukoharjo, Sekolah Standar Nasional. VISI : Terwujudnya Lulusan Yang Berprofil Pelajar Pancasila, Cakap Dalam Literasi Dan Numerasi Serta Berwawasan Lingkungan.


28 Januari 2023

Pembelajaran Berdiferensiasi

 

Pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang mengakomodir kebutuhan belajar murid. Guru memfasilitasi murid sesuai dengan kebutuhannya, karena setiap murid mempunyai karakteristik yang berbeda-beda, sehingga tidak bisa diberi perlakuan yang sama. Dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi guru perlu memikirkan tindakan yang masuk akal yang nantinya akan diambil, karena pembelajaran berdiferensiasi tidak berarti pembelajaran dengan memberikan perlakuan atau tindakan yang berbeda untuk setiap murid, maupun pembelajaran yang membedakan antara murid yang pintar dengan yang kurang pintar.

Ciri-ciri atau kerekteristik pembelajaran berdiferensiasi antara lain; lingkungan belajar mengundang murid untuk belajar, kurikulum memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas, terdapat penilaian berkelanjutan, guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar murid, dan manajemen kelas efektif.

Contoh kelas yang menerapkan pembelajaran berdiferensiasi adalah ketika proses pembelajaran guru menggunakan beragam cara agar murid dapat mengeksploitasi isi kurikulum, guru juga memberikan beragam kegiatan yang masuk akal sehingga murid dapat mengerti dan memiliki informasi atau ide, serta guru memberikan beragam pilihan di mana murid dapat mendemonstrasikan apa yang mereka pelajari. Contoh kelas yang belum menerapkan pembelajaran berdiferensiasi adalah guru lebih memaksakan kehendaknya sendiri. Guru tidak memahami minat, dan keinginan murid. Kebutuhan belajar murid tidak semuanya terenuhi karena ketika proses pembelajaran menggunakan satu cara yang menurut guru sudah baik, guru tidak memberikan beragam kegiatan dan beragam pilihan.

Untuk dapat menerapkan pembelajaran berdiferensiasi di kelas, hal yang harus dilakukan oleh guru antara lain:

  1. Melakukan pemetaan kebutuhan belajar berdasarkan tiga aspek, yaitu: kesiapan belajar, minat belajar, dan profil belajar murid (bisa dilakukan melalui wawancara, observasi, atau survey menggunakan angket, dll)
  2. Merencanakan pembelajaran berdiferensiasi berdasarkan hasil pemetaan (memberikan berbagai pilihan baik dari strategi, materi, maupun cara belajar)
  3. Mengevaluasi dan erefleksi pembelajaran yang sudah berlangsung.

Pemetaan kebutuhan belajar merupakan kunci pokok kita untuk dapat menentukan langkah selanjutnya. Jika hasil pemetaan kita tidak akurat maka rencana pembelajaran dan tindakan yang kita buat dan lakukan akan menjadi kurang tepat. Untuk memetakan kebutuhan belajar murid kita juga memerlukan data yang akurat baik dari murid, orang tua/wali, maupub dari lingkungannya. Apalagi dimasa pandemi seperti ini, dimana murid melaksanakan PJJ sehingga interaksi secara langsung antara guru dengan murid sangat jarang. Akibatnya data yang kita kumpulkan untuk memetakan kebutuhan belajar murid sulit kita tentukan valid atau tidaknya. Dukungan dari orang tua dan murid untuk memberikan data yang lengkap dan benar sesuai kenyataan yang ada. Tidak ditambahi dan juga tidak dikurangi. Orang tua dan murid harus jujur ketika guru melakukan pemetaan kebutuhan belajar, baik elalui wawancara, angket, survey, dll.

Terdapat tiga strategi diferensiasi diantaranya;

1.     Direfensiasi konten

Konten adalah apa yang kita ajarkan kepada murid. Konten dapat dibedakan sebagai tanggapan terhadapa kesiapan, minat, dan profil belajar murid maupun kombinasi dari ketiganya.

Guru perlu menyediakan bahan dan alat sesuai dengan kebutuhan belajar murid.

2.     Diferensiasi proses

Proses mengacu pada bagaimana murid akan memahami atau memaknai apa yang dipelajari.

Diferensiasi proses dapat dilakukan dengan cara:

a.     menggunakan kegiatan berjenjang

b.     meyediakan pertanyaan pemandu atau tantangan yang perlu diselesaikan di sudut-sudut minat,

c.     membuat agenda individual untuk murid (daftar tugas, memvariasikan lama waktu yang murid dapat ambil untuk menyelesaikan tugas,

d.     mengembangkan kegiatan bervariasi 

3.     Diferensiasi produk

Produk adalah hasil pekerjaan atau unjuk kerja yang harus ditunjukkan murid kepada kita (karangan, pidato, rekaman, doagram) atau sesuatu yang ada wujudnya.

Produk yang diberikan meliputi 2 hal:

a.     memberikan tantangan dan keragaman atau variasi,

b. memberikan murid pilihan bagaimana mereka dapat mengekspresikan pembelajaran yang diinginkan.

Penerapan pembelajaran berdiferensiasi akan memberikan dampak bagi sekolah, kelas, dan terutama kepada murid. Setiap murid memiliki karakteristik yang berbeda-beda, tidak semua murid bisa kita beri perlakuan yang sama. Jika kita tidak memberikan pelayanan sesuai dengan kebutuhan murid maka hal tersebut dapat menghambat murid untuk bisa maju dan berkembang belajarnya. Dampak dari kelas yang menerapkan pembelajaran berdiferensiasi antara lain; setiap orang merasa disambut dengan baik, murid dengan berbagai karakteristik merasa dihargai, merasa aman, ada harapan bagi pertumbuhan, guru mengajar untuk mencapai kesuksesan, ada keadilan dalam bentuk nyata, guru dan murid berkolaborasi, kebutuhan belajar murid terfasilitasi dan terlayani dengan baik. Dari beberapa dampak tersebut diharapkan akan tercapai hasil belajar yang optimal.

Dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi tentunya kita akan mengalami berbagai tantangan dan hambatan. Guru harus tetap dapat bersikap positif, Untuk tetap dapat bersikap positif meskipun banyak tantangan dalam penerapan pembelajaran berdiferensiasi adalah:

  1. Terus belajar dan berbagi pengalaman dengan teman sejawat lainnya yang mempunyai masalah yang sama dengan kita (membentuk Learning Community)   
  2. Saling mendukung dan memberi semangat dengan sesama teman sejawat.
  3. Menerapkan apa yang sudah kita peroleh dan bisa kita terapkan meskipun belum maksimal.
  4. Terus berusaha untuk mengevaluasi dan memperbaiki proses pembelajaran yang sudah diterapkan  

Pembelajaran berdiferensiasi sangat berkaitan dengan filosofi pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara, nilai dan peran guru penggerak, visi guru penggerak, serta budaya positif. Salah satu filosofi pendidkan menurut Ki Hajar Dewantara adalah sistem “among”, guru harus dapat menuntun murid untuk berkembang sesuai dengan kodratnya, hal ini sangat sesuai dengan pembelajaran berdiferensiasi. Salah satu nilai dan peran guru penggerak adalah menciptakan pembelajaran yang berpihak kepada murid, yaitu pembelajaran yang memerdekakan pemikiran dan potensi murid. Hal tersebut sejalan dengan pembelajaran berdiferensiasi. Salah satu visi guru penggerak adalah mewujudkan merdeka belajar dan profil pelajar pancasila, untuk mewujudkan visi tersebut salah satu caranya adalah dengan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi. Budaya positif juga harus kita bangun agar dapat mendukung pembelajaran berdirensiasi. 

20 Januari 2023

Kegiatan Jumat Bersih

 


Sekolah adalah sebuah tempat bagi para pelajar menuntut ilmu. Di indonesia, sekolah terbagi menjadi 3 tingkatan, yaitu Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas. Sekolah bisa dikatakan sebagai rumah kedua bagi para siswanya, semua ini karena para siswa menghabiskan sebagian waktunya untuk belajar di sekolah

Seperti rumah, sekolah pun harus selalu bersih dan terawat agar semua warga sekolah bisa merasa nyaman. Untuk menjaga lingkungan sekolah, tidak hanya tugas dari petugas kebersihan, akan tetapi semua warga sekolah harus ikut serta menjaga kebersihan sekolah karena ini merupakan tanggung jawab bersama dan harus saling membantu mewujudkan kondisi lingkungan sekolah yang bersih dan terawat. 

SMP Negeri 1 Weru selalu berupaya menjaga lingkungan sekolah tetap bersih dan sehat dengan secara rutin melakukan kegiatan Jumat Bersih sebulan sekali, selain itu juga setiap hari setiap kelas ada petugas piket kebersihan kelas. Dengan demikian lingkungan bersih akan tetap terjaga dengan baik

17 Oktober 2022

LT 3 Kwarcab Sukoharjo

 

Salam Pramuka

⚜️.
Penggalang Putra (Regu Garuda) dan Penggalang Putri ( Regu Seruni) dari Gugusdepan SMP Negeri 1 Weru mewakili Kwaran Weru Maju ke LT 3 Kwarcab Sukoharjo,
Penggalang Putri Menjadi Juara Umum 2 ( perolehan medali 4 emas, 3 perunggu) sedangkan Putra memperoleh Medali (1 emas, 2 perak 2 perunggu ). Terimakasih Do'a dan Dukunganya Nggih 🙏.
*Putri*
Juara 1 Tari
Juara 1 Orientasi medan
Juara 1 Menaksir
Juara 1 Sandi
Juara 3 Folksong
Juara 3 Hasta Karya
*Putra*
Juara 1 Hasta karya
Juara 2 menaksir
Juara 2 orientasi
Juara 3 PBB
Juara 3 Kesiapsiagaan



26 Agustus 2022

Gugusdepan SMP Negeri 1 Weru Mengukir Prestasi di Ajang Lomba Regu Tingkat II Kwartir Ranting Weru. Sebagai Juara 1 *Regu Tergiat*

 



Assalamualaikum warahmatullahi wabarrakatuh

Salam Pramuka ⚜️
Gugusdepan SMP Negeri 1 Weru Mengukir Prestasi di Ajang Lomba Regu Tingkat II Kwartir Ranting Weru.
Sebagai Juara 1 *Regu Tergiat*
Dengan Materi Lomba:
1. Administrasi
2. Pembekalan
3. Pendirian Tenda
4. Pembuatan Vlog
5. Pionering Aplikatif
6. Upacara Pembukaan Penutupan
7. Yel-yel
8. Tari Kontemporer
9. Apel sore dan apel pagi
10.Scouting Advanture ( Semaphore & Morse, Orientasi Medan, Ilmu Medan & Kompas, Menaksir, Semboyan & Isyarat, Teknik Survival )
11. PBB Bertongkat
Tempat : Gunungpegat, Karangasem, Bulu, Sukoharjo
Hari,Tanggal : Rabu, 24 Agustus 2022 sd Kamis, 25 Agustus 2022
Peserta Penggalang Putra Regu Garuda Gugusdepan SMP Negeri 1 Weru:
1. Mahardika Arya Wijaya (8B)
2. candra dwi Saputra 8H
3. Ardan Fadzilah Hasan 8E
4. Ramdhani Rohmadtulloh 8C
5.Rizki nur Ali s. 8E
6.muhammad Tristan Indra Wisnugeraha 8G
7.Ardhan Nasha Ariyadi 8E
8.edy pratama 8c
Peserta Penggalang Putri Regu Seruni Gugusdepan SMP Negeri 1 Weru:
1.Vanesa angel carolline 8g
2. Lervy Aulia Sekar Langit 8D
3.Aulia zulfatunnisa 8G
4.Nindi Arista Pristama aulia 8B
5.Fera Oktavia 8E
6.Nazhwa anggri Febriyanti 8H
7.Kayla 8H
8.Reva widiana 8D
Semangat Adik-adik Penggalang Gugusdepan SMP Negeri 1 Weru.
LT III Menanti Kalian.
Salam Pramuka ⚜️
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarrakatuh

02 Desember 2021

KEGIATAN VAKSINASI COVID-19 GO TO SCHOOL SMP N 1 WERU

 


Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

KEGIATAN VAKSINASI COVID-19 GO TO SCHOOL SMP N 01 WERU

Pada hari Sabtu 02 Oktober 2021 SMP N 01 Weru mengadakan kegiatan Vaksinasi COVID-19 Go To School Dosis-1 bekerja sama dengan Pihak Puskesmas Weru. Kegiatan Vaksinasi Go To School ini diikuti oleh siswa siswi SMP N 01 Weru yang berjumlah kurang lebih 500an siswa yang terdiri dari siswa-siswi kelas VIII, VIII, dan IX. Kegiatan Vaksinasi ini bertujuan untuk membentuk herd immunity atau kekebalan kelompok khusus nya di lingkungan SMP N 01 Weru dan juga bertujuan untuk mempersiapkan Pembelajaran Tatap Muka (PTM)

Semoga kita semua dihindarkan dari bahaya virus Covid-19 dan Semoga virus Covid-19 segera sirna dari dunia agar semua bisa beraktivitas normal kembali

11 November 2021

KEGIATAN SOSIALISASI ADAPTASI PERUBAHAN PERILAKU DI MASA PANDEMI KAMPUS MENGAJAR 2 SMP N 01 WERU

 


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


KEGIATAN SOSIALISASI ADAPTASI PERUBAHAN PERILAKU DI MASA PANDEMI KAMPUS MENGAJAR 2 SMP N 01 WERU

Haloha #SobatMengajar
Mimin mau ngasih info lagi nih... Alhamdulillah telah terlaksana salah satu program kerja dari Mahasiswa Kampus Mengajar 2 SMP N 01 weru yaitu Sosialisasi Adaptasi Perubahan Perilaku di masa pandemi. Sosialisasi ini ditujukan kepada perwakilan siswa siswi kelas 8 dan 9 yang tergabung ke dalam OSIS. Dengan sosialisasi ini diharapkan siswa siswi yang mengikuti dapat menularkan materi kepada teman teman kelas dan kepada seluruh siswa siswi SMP N 01 Weru untuk tetap menjaga 3M (memakai masker, mencuci tangan pakai sabun, dan menjaga jarak miminal 2 meter) agar covid-19 ini segera selesai dan kegiatan pembelajaran kembali normal aamiin

Tetap bersama kami...
Instagram : @km_smpn1weru
Email : km2smpn1weru@gmail.com


#AdaptasiKebiasaanBaru #KampusMengajarAngkatan2 #smpnegeri1weru

Wa'alaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh

08 November 2021

KEGIATAN SOSIALISASI TABLET TAMBAH DARAH PUSKESMAS WERU UNTUK SISWI SMP N 1 WERU



Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

KEGIATAN SOSIALISASI TABLET TAMBAH DARAH DARI PUSKESMAS WERU UNTUK SISWI SMP 1 WERU 

Haloha 
#SobatMengajar
Mimin mau ngasih informasi terbaru dari SMP N 01 Weru nih,
Alhamdulillah pagi tadi terlaksana Kegiatan Sosialisasi Tablet Tambah Darah Bagi Siswi SMP N 01 Weru. Kegiatan minum tablet tambah darah ini bertujuan agar siswi siswi SMP N 01 Weru yang sudah memasuki usia remaja dan juga sudah menstruasi tidak kekurangan darah atau anemia yang menyebabkan kurang fokus dalam kondisi apapun, selain itu tablet tambah darah ini juga sebagai pil pintar yang dimana kalo diminum 1 kali dalam seminggu dapat meningkatkan kecerdasan otak kita karena kandungan di dalam obat itu.

Eits... Tapi ngga semudah yang di bayangkan yaa gaes, kalo mau pintar juga harus belajar dengan sungguh jangan cuma minum pil yaah

Tetap stay tuned yaa
Selanjutnya mimin akan informasi kan keseruan di Kegiatan Kampus Mengajar 2 SMP N 01 Weru, SMP kita tercinta

Ikuti kami
Instagram : @km2_smpn1weru
Email : @km2_smpn1weru @gmail.com

Sekian
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

27 September 2021

KEGIATAN PENILAIAN LOMBA SEKOLAH SEHAT TINGKAT SMP

 


Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

KEGIATAN PENILAIAN LOMBA SEKOLAH SEHAT TINGKAT SMP

Haloha #SobatMengajar
Pada hari Senin 27 September 2021 SMP N 01 Weru mengikuti Lomba Sekolah Sehat Tingkat SMP yang di nilai oleh beberapa pihak yaitu ada Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan dan juga dari Pemerintah Kabupaten Sukoharjo. Di dalam lomba sekolah sehat ini ada beberapa aspek yang di nilai antara lain kebersihan dan kelengkapan alat kebersihan kamar mandi, ketersediaan alat alat di UKS, kelengkapan makanan guna memenuhi kebutuhan siswa di koperasi siswa, ketersediaan buku dan kekurangan buku di perpustakaan dan juga ketersediaan tempat cuci tangan pake sabun guna mencegah virus covid-19.

Semoga sekolah kita tercinta ini memenangkan perlombaan sekolah sehat tingkat SMP ini yaa teman teman. Aamiin

Tetap stay tuned, nanti mimin akan share informasi terbaru terkait SMP N 01 Weru Sekolah kita tercinta ini


Tetap bersama kami...
Instagram : @km_smpn1weru
Email : km2smpn1weru@gmail.com


#Lomba#LombaSekolahSehatTingkatSMP#DinasKesehatan#DinasPendidikan#PemKabSukoharjo#KampusMengajarAngkatan2#SmpNegeri01weru

Wa'alaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh


30 Juni 2020

Plus Minus Gadget di Kalangan Remaja

Pada jaman sekarang bukan merupakan suatu hal yang baru pada anak remaja mempunyai gadget seperti smartphone dan komputer tablet seperti ios, windows, dan android. Saat ini gadget di kalangan remaja tidak hanya digunakan sebagai media komunikasi saja, gadget dikalangan remaja sudah mejadi alat multi fungsi. Kamera salah satunya dapat dimanfaatkan oleh para pengguna gadget untuk mengabadikan moment – moment pribadinya, selain itu fasilitas sosial media juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para remaja untuk bersosialisasi atupun menunjukan kreatifitas yang mereka punya.

Saat ini, hampir anak remaja sudah memiliki gadget. Siswa yang memiliki gadget selalu membawa gadget mereka ke sekolah. Tak jarang mereka menggunakan gadget selama jam sekolah. Manfaat dari gadget sendiri bermacam-macam untuk menghitung, mengakses internet, mengirim pesan, bermain games, dan jejaring sosial terbuka seperti facebook, twitter, telegram, instagram dll. Tanda-tanda seorang remaja sudah kecanduan gadget yaitu penggunan gadget dalam sehari bisa lebih dari 6-8 jam bahkan lebih dalam, dampak lain dapat mengubah perilaku anak menjadi individualisme yaitu lebih senang bermain dengan ponsel daripada bermain dengan lingkungan sekitar. Kecanduan gadget juga dapat berdampak pada kesehatan yang membuat aktivitas fisik mulai menurun sehingga meminimalisir pergerakan, bahkan cenderung tidak bergerak saat memegang ponsel.

Menurut statistik lembaga riset pemasaran digital perkiraan e-marketer pada tahun 2018 jumlah pengguna aktif smartphone di Indonesia lebih dari 100 juta orang. Dalam perkembangannya berdasarkan laporan terbaru We Are Social, pada tahun 2020 disebutkan bahwa ada 175,4 juta pengguna internet di Indonesia. Dibandingkan tahun sebelumnya, ada kenaikan 17% atau 25 juta pengguna internet di negeri ini. Berdasarkan total populasi Indonesia yang berjumlah 272,1 juta jiwa, maka itu artinya 64% setengah penduduk RI telah merasakan akses ke dunia maya. Dengan jumlah itu. Indonesia akan menjadi negara dengan pengguna smartphone terbesar keempat yang aktif di dunia setelah China, India, dan Amerika. Indonesia tidak jauh berbeda dengan India. 

Saat ini, bagi remaja gadget merupakan barang yang sangat penting baginya, karena gadget bukan hanya digunakan sebagai alat komunikasi saja melainkan untuk mencari informasi dan sebagai sarana hiburan yang sangat menunjang aktifitasnya sehari-hari. Banyak dampak negatif dan positif yang didapat dari gadget  itu sendiri. banyak anak sudah mengenal gadget ketika masih balita. Oleh karena itu, tidak dipungkiri gagdet memang tidak dapat dihindarkan dari kehidupan sehari-hari, bahkan anak kecil pun sudah mengenal dan sudah bisa memainkan gadget.

Fasilitas gadget dari media sosial juga mempunyai dampak buruk , media social yang paling sering digunakan para generasi muda saat ini adalah facebook, twitter, path dan instagram. Banyak sekali remaja menggunakan media sosial untuk mencurahkan hati atau sesuatu yang menurutnya harus di beberkan ke media sosial tanpa mempedulikan dampak yang akan timbul. Dan memang ada beberapa dampak buruk jika anak kecanduan medsos.

Di era milenial seperti saat ini, pemandangan lalu lalang orang menggunakan gadget bukanlah suatu hal yang aneh lagi. Mulai dari anak sekolah hingga orang lanjut usia pasti sudah memiliki gadget. Banyak hal yang diuntungkan dengan adanya revolusi besar ini dalam kehidupan. Namun tak jarang efek negatif juga seringkali timbul dengan adanya gadget. Menggunakan gadget bukanlah suatu kesalahan, tapi jika sudah sampai kecanduan dan merugikan banyak pihak, sebaiknya kita mulai mengurangi frekuensi pemakaian.

Berikut 5 cara yang dapat digunakan untuk mengatasi kecanduan gadget

  1. Cara mengatasi kecanduan gadget yang paling ampuh adalah mematikan WiFi dirumah, penggunaan WiFi di rumah biasanya ditujukan agar kita bisa lebih menghemat ketersediaan kuota yang ada pada gadget kita. Coba mulai hentikan langganan WiFi di rumah dan hanya pergunaan kuota internet yang ada pada gadget saja. Cara mengatasi kecanduan gadget bisa dilakukan agar kita lebih terbatas dalam penggunaan gadget setiap harinya. 

  2. Gunakan hanya satu media sosial saja, seringkali kita memeriksa media sosial padahal tidak ada notifikasi apapun. Atau meng-update kegiatan sehari-hari di seluruh media sosial yang kita punya. Selain menghabiskan banyak waktu, kita jadi terlihat sibuk sendiri dengan aktivitas di dunia maya. Padahal banyak hal menarik yang bisa kita lakukan di dunia nyata. Beberapa kejadian yang terjadi di dunia nyata mungkin tidak perlu selalu di bagikan lewat sebuah unggahan foto atau video di dunia maya, namun cukup kita simpan di dalam memori saja. Nah, cata mengatasi kecanduan gadget yang satu ini memang pasti sulit untuk dilakukan.

  3. Bekali diri dengan sebuah buku setiap hari,  kebanyakan orang menggunakan gadget pada saat sedang menunggu atau antre. Hal ini dilakukan untuk membunuh waktu dalam mengatasi rasa bosan. Mulai ganti alat bantu penghilang rasa bosan dengan membaca sebuah buku yang menarik minat kalian untuk membaca. Bekali diri setiap hari dengan sebuah buku hingga sewaktu-waktu kalian harus menunggu, kalian tahu harus mengakali rasa bosan selain dengan memainkan gadget.

  4. Matikan gadget 1 jam sebelum tidur. Salah satu hal yang membuat kita susah tidur adalah penggunaan gadget pada malam hari. Adanya rasa ingin memeriksa notifikasi atau hanya sekedar melihat-lihat sosial media dapat membuat jam tidur kita jadi terganggu. Coba mulai matikan gadget 1 jam sebelum tidur agar kita tidak perlu selalu memeriksa gadget yang kita miliki. Bereskan semua hal yang mengharuskan kita menggunakan gadget. Bila perlu, pasang status off atau Sleeping di layanan chat yang kita punya agar tidak ada yang menghubungi atau khawatir karena kita sedang tidak bisa dihubungi.

  5. Jangan pergunakan power bank, membawa power bank setiap saat tentu bermanfaat jika gadget yang kita miliki tiba-tiba kehabisan daya saat dibutuhkan. Namun dengan selalu tersedianya power bank kita jadi tidak perlu khawatir dengan gadget yang sewaktu-waktu bisa mati. Coba mulai tinggalkan powerbank dan atur penggunaan gadget sebaik mungkin agar kita tidak perlu kerepotan kehabisan daya saat benar-benar membutuhkan gadget. Hal ini secara otomatis akan membuat kita menyentuh gadget hanya pada saat dibutuhkan saja.

Sejauh ini, riset baru bisa menunjukkan efek terlalu lama main gadget pada fisik. Misal sakit kepala, carpal tunnel syndrome dan stres akut. Pun demikian, solusinya berlaku sama baik itu untuk anak, remaja, pun dewasa. Buatlah batasan bagi diri sendiri untuk menjauh dari gadget. Sepenuhnya menjauh dari gadget mungkin sulit bahkan mustahil bagi kebanyakan orang. Namun, menyediakan waktu sedikit saja untuk bergawai dan bermedia sosial benar-benar bisa membuat Anda merasa lebih baik dalam jangka panjang. Generasi muda harus pandai-pandai untuk membatasi diri serta menggali informasi dari penggunaan gadget. Gunakanlah gadget sebagai suatu media yang dapat membawa kita untuk menjadi orang yang sukses.

Ditulis ulang oleh Adi Kuswanto, S.Pd
diambil dari Sumber1Sumber 2

28 Juni 2020

Setiap Siswa - Remaja adalah Pribadi yang Istimewa

Siswa adalah pribadi yang spesial dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dia adalah seorang manusia yang diciptakan-NYA dengan istimewa. Oleh karena itu guru / seorang pengajar bukanlah sekedar suatu pekerjaan, namun harus mampu memahami konsep tentang pribadi siswa yang istimewa tersebut. Mengajar janganlah diartikan hanya sekedar menyampaikan materi pelajaran kepada siswa, namun lebih lagi daripada itu yaitu suatu proses mengatur lingkungan atau kondisi dimana siswa dapat belajar dan mengembangkan potensi yang ada di dalam dirinya.

Siswa merupakan pribadi yang unik, dimana siswa itu merupakan individu manusia yang memiliki karakteristik yang sangat kompleks. Setiap individu pastinya memiliki potensi, intelegensi yang berbeda dengan yang lainnya. Semua itu akan membentuk kepribadian yang unik dan khas. Siswa yang satu akan berbeda dengan siswa yang lain. Seorang guru akan dihadapkan dalam situasi keragaman karakteristik siswa. Oleh karena itu, seorang guru perlu memiliki kemampuan dalam merancang dan mengimplementasikan berbagai strategi maupun metode dalam pembelajaran yang kita anggap cocok dengan minat, bakat serta sesuai dengan taraf perkembangan siswa. Agar siswa dapat mengembangkan potensi yang ia miliki.

Menurut Hurlock (1981) remaja adalah mereka yang berada pada usia 12-18 tahun. Monks, dkk (2000) memberi batasan usia remaja adalah 12-21 tahun. Menurut Stanley Hall (dalam Santrock, 2003) usia remaja berada pada rentang 12-23 tahun. Berdasarkan batasan-batasan yang diberikan para ahli, bisa dilihat bahwa mulainya masa remaja relatif sama, tetapi berakhirnya masa remaja sangat bervariasi. Bahkan ada yang dikenal juga dengan istilah remaja yang diperpanjang, dan remaja yang diperpendek. Remaja adalah masa yang penuh dengan permasalahan. Statemen ini sudah dikemukakan jauh pada masa lalu yaitu di awal abad ke-20 oleh Bapak Psikologi Remaja yaitu Stanley Hall. Pendapat Stanley Hall pada saat itu yaitu bahwa masa remaja merupakan masa badai dan tekanan (storm and stress) sampai sekarang masih banyak dikutip orang. Menurut Erickson masa remaja adalah masa terjadinya krisis identitas atau pencarian identitas diri. Gagasan Erickson ini dikuatkan oleh James Marcia yang menemukan bahwa ada empat status identitas diri pada remaja yaitu identity diffusion/ confussion, moratorium, foreclosure, dan identity achieved (Santrock, 2003, Papalia, dkk, 2001, Monks, dkk, 2000, Muss, 1988). Karakteristik remaja yang sedang berproses untuk mencari identitas diri ini juga sering menimbulkan masalah pada diri remaja. Gunarsa (1989) merangkum beberapa karakteristik remaja yang dapat menimbulkan berbagai permasalahan pada diri remaja, yaitu:
  1. Kecanggungan dalam pergaulan dan kekakuan dalam gerakan.
  2. Ketidakstabilan emosi.
  3. Adanya perasaan kosong akibat perombakan pandangan dan petunjuk hidup.
  4. Adanya sikap bersebrangan atau menentang  orang tua.
  5. Adanya pertentangan di dalam dirinya. Hal ini sering menjadi pangkal penyebab pertentangan-pertentang dengan orang tua.
  6. Kegelisahan karena banyak hal diinginkan tetapi remaja tidak sanggup memenuhi semuanya.
  7. Senang bereksperimentasi.
  8. Senang bereksplorasi.
  9. Mempunyai banyak fantasi, khayalan, dan bualan.
  10. Kecenderungan membentuk kelompok dan kecenderungan kegiatan berkelompok.
Berdasarkan tinjauan teori perkembangan, usia remaja adalah masa saat terjadinya perubahan-perubahan yang cepat, termasuk perubahan fundamental dalam aspek kognitif, emosi, sosial dan pencapaian (Fagan, 2006). Sebagian remaja mampu mengatasi transisi ini dengan baik, namun beberapa remaja bisa jadi mengalami penurunan pada kondisi psikis, fisiologis, dan sosial. Akhir-akhir ini banyak orang tua maupun pendidik yang merasa khawatir bahwa anak-anak mereka terutama remaja mengalami degradasi moral. Sementara remaja sendiri juga sering dihadapkan pada dilema-dilema moral sehingga remaja merasa bingung terhadap keputusan-keputusan moral yang harus diambilnya. Walaupun di dalam keluarga mereka sudah ditanamkan nilai-nilai, tetapi remaja akan merasa bingung ketika menghadapi kenyataan ternyata nilai-nilai tersebut sangat berbeda dengan nilai-nilai yang dihadapi bersama teman-temannya maupun di lingkungan yang berbeda.

Pengembangan Potensi Remaja

Pengembangan potensi peserta didik merupakan proses yang disengaja dan sistematis dalam membiasakan/mengkondisikan peserta didik agar memiliki kecakapan dan keterampilan hidup. Untuk dapat mengembangkan, sebelum ataupun bersamaan dengan usaha kongkrit dilakukan, sangat perlu adanya pengertian dan pemahaman para pendidik terhadap remaja. Kecakapan dan keterampilan yang dimaksud berarti luas, baik kecakapan personal (personal skill) yang mencakup; kecakapan mengenali diri sendiri (self awareness) dan kecakapan berpikir rasional (thinking skill), kecakapan sosial (social skill), kecakapan akademik (academic skill), maupun kecakapan vokasional (vocational skill). Kegiatan pendidikan pada tahap melatih lebih mengarah pada konsep pengembangan kemampuan motorik peserta didik. Terkait dengan proses melatih ini, perlu dilakukan pembiasaan dan pengkondisian anak dalam berpikir secara kritis, strategis dan taktis dalam proses pembelajaran. Peserta didik dilatih memahami, merumuskan, memilih cara pemecahan dan memahami proses pemecahan “masalah”. Berangkat dari kondisi tersebut, maka budaya instant dalam pembelajaran yang selama ini dibudayakan harus ditinggalkan, menuju proses pemberdayaan seluruh unsur dalam sistem pembelajaran. Namun, dalam kenyataan, kita menemukan banyak remaja menjadi remaja yang seakan-akan terlahir bodoh, tanpa potensi apa pun. Ada dua hal yang harus kita perhatikan dalam upaya menggali potensi remaja sehingga mereka bisa meraih impian masa depannya. Pertama, konsep diri dan kedua, pandangan yang benar mengenai kecerdasan. Tiap upaya untuk menggali maupun meningkatkan potensi, prestasi maupun kompetensi seseorang, tidak terlepas dari yang bernama konsep diri. Konsep diri seorang remaja adalah cara pandangnya terhadap dirinya sendiri. Konsep diri seorang remaja terbentuk melalui pengalaman dan interaksi dengan lingkungan serta dipengaruhi siapa yang dianggap memiliki otoritas terhadap dirinya. Bagi anak remaja, guru dan orangtua-lah yang dianggap memiliki otoritas. Kosep diri ini mempengaruhi cara seorang remaja berpikir, bersikap dan bertindak dalam hal apa pun, baik dalam berhubungan dengan orang lain maupun dalam kegiatan yang dikerjakan. Kosep diri terdiri atas diri ideal, citra diri dan harga diri.

Selama ini orang selalu menilai seorang remaja berbakat dan pintar hanya dari nilai yang diperoleh di sekolah, sehingga jika seorang remaja mendapatkan nilai yang kurang dengan cepat orang akan mengatakan bahwa si remaja bodoh dan tidak memiliki potensi apa pun. Pandangan dan penilaian semacam ini sangat keliru dan menyesatkan. Akibat pandangan keliru itu si remaja tidak dapat mengembangkan dan menemukan potensi yang ada dalam dirinya. Profesor Howard Gardner dari Universitas Harvard telah mengembangkan model kecerdasan yang disebut multiple intelligence lebih 20 tahun. Ia tiba pada satu pandangan bahwa kecerdasan bukanlah sesuatu yang bersifat tetap. Kecerdasan akan lebih tepat kalau digambarkan sebagai suatu kumpulan kemampuan atau keterampilan yang dapat ditumbuhkan dan dikembangkan. Kecerdasan bersifat laten, ada di diri tiap manusia tetapi dengan kadar pengembangan yang berbeda. Dalam menjelaskan mengenai kecerdasan, ia menggunakan kata ‘bakat’ atau ‘talenta’. Konsep multiple intelligence yang dikembangkannya terdiri atasi delapan jenis kecerdasan, yaitu:

  1. Kecerdasan linguistik, kemampuan dalam bidang bahasa.
  2. Kecerdasan matematika dan logika, kemampuan dalam berpikir abstrak dan terstruktur.
  3. Kecerdasan visual dan spasial, kemampuan yang berhubungan dengan gambar, diagram, peta, maupun grafik.
  4. Kecerdasan musik, kemampuan yang sangat kreatif dalam hal musik.
  5. Kecerdasan interpersonal, mampu bergaul dan beradaptasi dengan cepat, mampu menjadi mediator, dan pintar dalam hal berkomunikasi
  6. Kecerdasan intrapersonal, kemampuan untuk dapat mengerti diri sendiri serta kemampuan untuk memperhatikan nilai dan etika hidup.
  7. Kecerdasan kinestetik, ahli dalam hal-hal yang berhubungan dengan fisik, pekerjaan tangan dan dalam hal mengelolah suatu objek.
  8. Kecerdasan naturalis, kemampuan untuk mencintai alam dan berinteraksi dengan hewan maupun tumbuhan

Pengembangan potensi seorang remaja hendaklah memperhatikan hal-hal tersebut. Meniadakan atau mengesampingkan salah satu aspek di dalamnya merupakan pekerjaan sia-sia dalam usaha menggali potensi seorang remaja. Perlu dukungan dari orangtua dan guru dalam mengembangkan potensi yang ada dalam diri seorang remaja sehingga mereka bisa meraih semua impian masa depan mereka. Bantu mereka agar memiliki konsep diri yang baik dan benar, lihatlah mereka dari sudut pandang multiple intelligence, biarkan mereka berkembang sesuai dengan kecerdasan yang mereka miliki.

Ditulis ulang oleh Adi Kuswanto, S.Pd.
diambil dari Sumber1 , Sumber2

27 Juni 2020

New Normal di Pendidikan selama masa pandemi Covid-19

Pandemi Covid-19 memberikan dampak yang begitu serius dalam berbagai sektor tidak terkecuali sektor pendidikan. Dalam pengelolaan pendidikan, Indonesia membutuhkan cara yang baru baik itu dalam menghadapi pandemi maupun pasca pandemi. Dengan adanya pandemi jangan sampat hak-hak peserta didik dalam mendapatkan pendidikan yang baik dan memadai terhalang. Kurikulum baru yang relevan sangat dibutuhkan dalam menyongsong situasi kenormalan baru (new normal).

Setelah pandemi berlalu, sekedar menormalkan praksis sekolah tidaklah cukup. Yang diperlukan adalah adanya transformasi, yaitu desain besar untuk mengubah sistem pendidikan secara mendasar. Kurikulum 2013 yang begitu padat tidak mungkin lagi kita terapkan selama masa pandemi ini. Ini tantangan kita semua. Apalagi dalam menerapkan pembelajaran jarak jauh atau daring ini, baku mutu pendidikan, standar pendidikan, tidak ada yang seragam. Kualitas pendidikan pun akhirnya dipertanyakan.

Jika ini diserahkan kepada kreativitas masing-masing guru dan sekolah. Sudah pasti akan terjadi kesenjangan antara guru, dan antara satu sekolah dengan sekolah lainnya, atau satu kota dengan kota lainnya, atau satu provinsi dengan provinsi lainnya. Yang notabene memang tidak dipersiapkan untuk hal tersebut. sehingga pemerataan dalam hal kualitas pendidikan tidak dapat terlaksana.

Efektifitas Pembelajaran Daring

Pandemi Covid-19 membawa dampak luar biasa pada sektor pendidikan. Hal ini terjadi karena pada dasarnya pendidikan tidak mengakomodasi situasi ini. Apalagi terjadi perbedaan yang mencolok antara satu sekolah dengan sekolah lain atau satu daerah dengan daerah lain. Pada saat yang sama, hanya sedikit guru yang siap melakukan pembelajaran online secara mandiri. Alih-alih pembelajaran berbasis jaringan, justru yang terjadi malah membebani peserta didik dengan tugas yang bertumpuk. Tetapi, tetap harus diakui, kesadaran para pendidik untuk memulai pembelajaran melalui daring, patut diapresiasi.

Kepemilikan siswa terhadap perangkat komunikasi juga terbatas. Kuota internet yang tidak murah, pun dengan akses jaringan di beberapa wilayah belum memadai. Belum lagi orang tua yang belum terbiasa dengan pembelajaran online. Hal ini menjadi problem tersendiri yang mengakibatkan praktek pembelajaran ini dirasa belum efektif.

Pandemi Covid-19 adalah Momentum

Masa pandemi ini adalah momentum untuk kita melakukan hal-hal besar dan mendasar. Untuk mencegah penularan virus, sementara ini para peserta didik harus mematuhi protokol kesehatan seperti mencuci tangan dengan sabun, penggunaan masker dan penerapan social maupun physical distancing, seraya melakukan berbagai upaya praktis agar pendidikan berjalan normal. Hal ini bukan berarti sebagai upaya untuk menaikan angka partisipasi sekolah seperti yang kini banyak dilakukan. Tetapi, melakukan perubahan menyeluruh dan mendasar dalam kurikulum sekolah, baik terkait dengan kontennya maupun perubahan model terhadap sistem pembelajarannya.

Sistem pembelajaran tidak bisa kembali ke suasana seperti sebelum pandemi, yaitu kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka atau offline terutama selama vaksin belum ditemukan. Maka dari itu, sudah saatnya sektor pendidikan menggunakan cara baru dalam proses pembelajaran. Jika biasanya belajar di kelas dilakukan selama 6-8 jam, sekarang tidak bias lagi karena jika masih menggunakan ketentuan itu maka siswa harus berbagi ruangan kelas. Dengan demikian, pemerintah tidak bisa lagi mengharuskan 24 jam mengajar bagi guru.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan harus melakukan penyesuaian untuk menyelaraskan sistem pembelajaran dengan kenormalan baru tersebut. Evaluasi atas proses pembelajaran daring yang telah terlaksana juga harus dilakukan. Terlebih ketika pembelajaran model ini akan digunakan lagi dalam masa New Normal atau kenormalan baru nanti. Sehingga dapat meminimalisir adanya kendala dan problem

Ditulis ulang oleh Adi Kuswanto, S.Pd
diambil dari Sumber

25 Juni 2020

Menanamkan Nilai-Nilai Karakter Peserta Didik melalui Pembiasaan dan Komunitas Moral di Kelas

PENDAHULUAN

Perkembangan zaman yang bersifat global dalam segala bidang keilmuan tentu berpengaruh terhadap pola pikir dan perilaku. Akibatnya, dampak secara global diperlukan langkah-langkah taktis-strategis melalui penguatan karakter, serta nilai-nilai sosial budaya yang relevan dan diperlukan untuk memajukan bangsa. Harus diakui bahwa lemahnya penanaman nilai-nilai kejujuran peserta didik bersumber dari rendahnya kualitas pendidikan karakter yang diberikan.

Pendidikan yang kurang berkualitas tidak lagi mampu menawarkan program dan situasi yang berdampak jangka panjang bagi tumbuhnya karakter seseorang. Ibid (dalam Zubaedi, 2017:377), Karakter adalah gabungan dari kebiasaankebiasaan yang dilakukan terus-menerus dengan mengakar kuat dalam kepribadian seseorang. Kemampuan menghayati kewajiban sebagai sebuah keniscayaan tidaklah lahir dengan sendirinya, tetapi tumbuh melalui suatu proses, usaha menumbuhkembangkan dapat ditempuh melalui pendidikan karakter dengan pembiasaan dan penciptaaan komunitas moral di kelas.

Pembentukan budaya dan karakter di sekolah bukan hanya dibebankan pada mata pelajaran terpisah yang menggunakan pendekatan akademik dan teoritik, tetapi hasil belajar dari pendidikan karakter tidak sekedar pengetahuan hafalan yang diuji dan dinilai dengan skor nilai, namun hasil belajar berisi kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan dalam dimensi karakter yang diuji dengan proses penilaian dan produk, sehingga pembentukan karakter menjadi sikap yang menjadi bagian jiwanya kemudian menjelma dalam perilaku. Karena perbuatan dan perilaku adalah manifestasi konkret terhadap nilai perbuatan dari pendidikan karakter itu sendiri yang dapat diterapkan melalui pembiasaan dan komunitas moral di kelas. Tidak dapat dipungkiri bahwa degradasi moral semakin hari semakin dalam kondisi memprihatikan, tingginya tingkat kekerasan dalam lingkungan sekolah, tingkat bullying serta perilakuperilaku siswa yang kian menyimpang dari norma-norma serta banyaknya kasus-kasus yang terjadi di sekolah.

Disamping itu, dengan perkembangan teknologi, informasi dan komunikasi yang begitu pesat dan sulit dibendung, akan sangat berpengaruh terhadap pembiasaan. Pembiasaan sikap menghargai dan rasa hormat kepada diri sendiri, menghormati kepada orang lain yang lebih tua, kemampuan untuk mengendalikan diri dan mengontrol emosi, perilaku santun yang sesuai dengan tatanan norma sudah mulai berkurang. Hal ini dapat dicegah dan diatasi melalui terbentuknya iklim sekolah yang baik guna mendukung keberhasilan pelaksanaan pendidikan karakter yang diawali dari pembentukan suasana kelas yang baik terlebih dahulu.

Menurut John Dewey, (dalam Zubeadi, 2017), Pendidikan dikatakan gagal, jika tidak menganggap sekolah sebagai salah satu bentuk kehidupan masyarakat. Penerapan pendidikan karakter melalui pembiasan dan komunitas moral di kelas dapat menurunkan perilaku saling mengejek dan juga menurunkan tingkat perselisihan antar pelajar. Sebagian besar masalah perilaku disebabkan oleh peserta didik tidak mengerti mengapa hal-hal tertentu harus dilakukan dan yang lain tidak dilakukan. Sehingga guru harus menyadari bahwa intensif seperti reward dan hadiah lainnya hanyalah bersifat sementara sebagai perangsang agar mereka bersikap benar. Akan tetapi, jika keinginan untuk hadiah atau reward tetap mendominasi sebagai motif, ini justru akan menjadi penghalang dari pada membantu kesikap karakter yang benar. Untuk itu, agar bisa berhasil dalam mengajarkan sikap hormat dan bertanggung jawab, seorang pendidik harus menjadikan upaya pembentukan komunitas moral kelas sebagai tujuan pendidikan utama.

Oleh karena itu, penanaman nilainilai karakter perlu diterapkan pada diri masing-masing peserta didik melalui pembiasaan dan penciptaan komunitas moral di kelas. Dengan menjadikan pembiasaan dan komunitas moral di kelas sebagai upaya menanamkan nilai-nlai pendidikan karakter, peserta didik akan belajar tentang moralitas dengan cara mempraktikkannya melalui pembiasaan. Oleh karena itu, mereka harus berada dalam sebuah komunitas-interaksi, menjalin hubungan, menyelesaikan masalah, berkembang sebagai sebuah kelompok, dan belajar langsung dari pengalaman sosial yang mereka rasakan sendiri. melalui pembiasaan secara rutin, simultan, dan berkesinambungan akan efektif daripada pola teoritis doktrinal. Hal ini mengingat melalui kegiatan pembiasaan akan menjadikan peserta didik mengalami proses imitasi, identifikasi, sugesti, dan simpati terhadap perilaku bermuatan nilai-nilai karakter. Sikap dan perilaku yang bermoral pada anak akan berkembang sebagaimana lingkungan yang mengajarinya dan lingkungan tersebut menjadi kebiasaan yang dihadapinya setiap hari.

ANALISIS

Pendidikan karakter adalah suatu payung istilah yang menjelaskan berbagai aspek pengajaran dan pembelajaran bagi perkembangan personal. Beberapa area dibawah payung ini meliputi penalaran moral atau pengembangan kognitif, pembelajaran sosial dan emosional, pendidikan kebajikan moral, dan pendidikan keterampilan hidup yang dimulai dari pembelajaran di kelas. Terbentuknya iklim sekolah yang baik guna mendukung keberhasilan pelaksanaan program pendidikan karakter diawali dengan pembentukan suasana kelas yang baik terlebih dahulu. Pendidikan karakter adalah upaya yang dilakukan dengan sengaja untuk mengembangkan karakter yang baik.

Sudrajat (dalam Zubaedi, 2017:375), mengemukakan bahwa ada empat strategi yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan pendidikan karakter dalam menumbuhkan nilai-nilai moral di lingkungan akademik yaitu meliputi; pengajaran (teaching), keteladanan (modeling), penguatan (reinforcing), dan pembiasaan (habituating). Dalam buku yang berjudul The Habits of Highly Effective Teens, Stephen R. Covery mengungkapkan, bahwa ada tujuh kebiasaan yang dapat diterapkan dalam mendidik karakter anak didik, yaitu bersikap proaktif, memulai dengan tujuan akhir, mendahulukan yang utama, berpikir menang, berusaha memahami terlebih dahulu baru dipahami, mewujudkan sinergitas, dan prinsip pembaruan yang seimbang.

Menurut David Brooks dan Mark Kann (dalam Zubaedi,2017:373) membuat daftar sebelas elemen yang sangat penting untuk pendidikan karakter yang diterapkan melalui pembiasaan dan komunitas moral di kelas, yaitu; harus ada instruksi langsung dalam pendidikan watak, untuk anak-anak harus terbiasa dengan kebajikan, mereka harus mendengar dan melihat kata-kata, belajar maknanya, mengidentifikasi perilaku yang tepat dan menerapkannya. Penggunaan bahasa yang baik sangat penting bagi anak-anak, mereka harus didorong untuk menggunakan bahasa kebajikan dan guru harus menghindari bahasa negatif seperti “jangan terlambat” atau “jangan lupa” dan mengganti dengan “tepat waktu” atau “bersiaplah”.

Hasil studi Lewis dan Schaos (1996) menunjukkan bahwa suasana kelas yang kondusif akan mempunyai dampak yang positif, karena; harapan dan kemampuan akademik siswa meningkat, motivasi siswa untuk belajar menjadi lebih besar, siswa lebih menyenangi sekolah, tingkat absensi siswa lebih rendah, kemampuan sosial siswa menjadi lebih baik, masalah kenakalan siswa jauh berkurang, dan siswa mempunyai sikap yang lebih terbuka. Hal ini dapat terwujud apabila seluruh masyarakat sekolah menumbuhkan budaya bahasa, dan iklim berkelakuan baik.

Pembiasaan Peserta Didik di Kelas

Kegiatan pembiasaan pada dasarnya merupakan implementasi nyata semua mata pelajaran karena pembiasaan merupakan terapan atas pemahaman, keterampilan, serta sikap dan nilai yang dibangun pada semua mata pelajaran. Menurut Abdullah Nasih Ulwan (dalam Zubaedi, 2017:377), metode pembiasaan adalah cara atau upaya yang praktis dalam pembentukan (pembinaan) dan persiapan anak. Sedangkan menurut Ramayulis, metode pembiasaan adalah cara untuk menciptakan suatu kebiasaan atau tingkah laku tertentu bagi anak didik. Arthur, (2003:38), Pembiasaan adalah pengalaman berulang-ulang dan/atau tindakan dari jenis yang sama yang menimbulkan kebiasaan pada setiap orang.

Hasil penelitian Supiana dan Rahmat Sugiharto (2017), menunjukkan bahwa metode pembiasaan sangat efektif untuk menguatkan hafalan-hafalan pada anak didik, dan untuk penanaman sikap beragama dengan cara menghapal doa-doa. Menanamkan kebiasaan yang baik memang tidak mudah, dan kadang-kadang memakan waktu yang lama. Tetapi sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan sukar pula untuk mengubahnya. Maka kebiasaan mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia. Selain itu pembiasaan hendaknya disertai dengan usaha membangkitkan kesadaran atau pengertian secara terus-menerus, sebab pembiasaan digunakan bukan untuk memaksa peserta didik agar melakukan sesuatu secara otomatis, melainkan agar anak dapat melaksanakan segala kebaikan dengan mudah tanpa merasa berat atau susah hati.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Supraptiningrum dan Agustini (2015) menjelaskan bahwa, untuk menanamkan karakter pada siswa dilakukan dengan pembiasaan melalui berbagai kegiatan, yaitu: (1) kegiatan rutin yang dilakukan siswa secara terus-menerus dan konsisten setiap saat; (2) kegiatan spontan yang dilakukan siswa secara spontan pada saat itu juga; (3) keteladanan merupakan perilaku dan sikap guru dan tenaga kependidikan dan siswa dalam memberikan contoh melalui tindakan-tindakan yang baik sehingga diharapkan menjadi panutan bagi siswa lain; (4) pengondisian dengan cara penciptaan kondisi yang mendukung keterlaksanaan pendidikan karakter.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Nur Hidayat (2016), inti dari pembiasaan dalam pendidikan adalah pengulangan. Misalnya, pendidik senantiasa mengingatkan peserta didik dalam hal berpakaian. Penyampaian seperti ini apabila didengar dan dipahami, maka dengan sendirinya peserta didik dapat membiasakan diri berpakaian sesuai tuntutan agama. Penerapan pembiasaan pendidikan karakter di kelas di mulai dari hal-hal yang sederhana namun secara kontinyu dan berarti. 

Kemendiknas (dalam Ernawati, 2017), berpendapat bahwa pengembangan nilai-nilai karakter didefinisikan dari beberapa sumber, yaitu agama, pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional yang menghasilkan nilai-nilai karakter. Penerapan pembiasaan dan penciptaan komunitas moral pendidikan karakter di kelas di mulai dari hal-hal yang sederhana namun secara kontinyu dan berarti, seperti; (1) Memiliki sifat religius dan jujur, misalnya berdoa sebelum dan sesudah pelajaran, menyediakan fasilitas tempat temuan dan barang hilang, larangan menyontek; (2) Sikap toleran, misalnya memberikan pelayanan yang sama terhadap seluh warga kelas tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, status sosial, dan status ekonomi, serta bekerja dalam kelompok yang berbeda; (3) Disiplin dan kerja keras, misalnya membiasakan hadir tepat waktu, membiasakan mematuhi aturan, menciptakan suasana kompetensi yang sehat, menciptakan etos kerja, pantang menyerah, dan daya tahan belajar, serta memiliki pajangan slogan atau motto tentang giat belajar dan berkerja; (4) Kreatif dan mandiri, misalnya menciptakan suasana belajar yang bisa menumbuhkan daya pikir dan bertindak kreatif, memberikan tugas yang menantang, munculnya karya-karya baru; (5) Mandiri, misalnya menciptakan suasana kelas yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bekerja mandiri; (6) Demokratis, misalnya mengambil keputusan kelas secara bersama melalui musyawarah dan musfakat, pemilihan kepengurusan kelas secara terbuka; (7) Rasa ingin tahu, misalnya menciptakan suasana kelas yang mengundang rasa ingin tahu, eksplorasi lingkungan secara terprogram, tersedia media komunikasi atau informasi (media cetak dan media elektronik); (8) Semangat kebangsaan dan cinta tanah air, misalnya bekerja sama dengan teman kelas yang berbeda suku, status sosial-ekonomi, mendiskusikan hari-hari besar nasional, memajang foto presiden dan wakil presiden, bendera, lambang Negara, peta Indonesia, gambar kehidupan masyarakat Indonesia; (9) Menghargai prestasi, misalnya memberikan penghargaan atas hasil karya peserta didik, memajang tanda-tanda penghargaan prestasi; (10) Bersahabat atau komunikatif, misalnya pengaturan kelas yang memudahkan terjadinya interaksi peserta didik, pembelajaran yang dialogis, mendengarkan keluhan-keluhan peserta didik; (11) Gemar membaca, misalnya daftarkan buku atau tulisan yang dibaca peserta didik, frekuensi kunjungan perpustakaan, saling tukar bacaan, pembelajaran yang memotivasi anak menggunakan referensi; (12) Peduli lingkungan, misalnya memelihari lingkungan kelas, tersedia tempat pembuangan sampah didalam kelas, pembiasaan menghemat energi, memasang stiker perintah, mematikan lampu dan menutup keran air pada setiap lingkungan kelas maupun sekolah; (13) Peduli sosial, misalnya berempati kepada sesama teman kelas, melakukan aksi sosial, membangun kerukunan warga kelas; (14) Tanggung jawab, misalnya pelaksanaan tugas piket secara teratur, peran serta aktif dalam kegiatan sekolah, dan mengajukan usul pemecahan masalah.

Gerakan penumbuhan budi pekerti di sekolah dirasakan akan lebih mengena jika dilakukan dengan serangkaian kegiatan pembiasaan. Pertama, menumbuhkembangkan nilai-nilai moral dan spiritual lewat pengamalan nilai-nilai moral dalam perilaku nyata sehari-hari. Nilai moral diajarkan kepada siswa, lalu guru dan siswa mempraktikkan secara rutin menjadi kebiasaan dan akhirnya bisa membudaya. Kedua, menumbuhkembangkan nilai-nilai kebangsaan dan kebhinekaan. Ketiga, mengembangkan interaksi positif antara peserta didik, guru, dan orangtua. Keempat, mengembangkan interaksi positif antarpeserta didik. Kelima, merawat diri dan lingkungan sekolah. Keenam, mengembangkan potensi diri peserta didik secara utuh. Ketujuh, pelibatan orang tua dan masyarkat sekolah.

Menciptakan Komunitas Moral di Kelas

Menurut Haricahyono, (1988:9), Pendidikan moral adalah suatu kegiatan membantu anak untuk menuju kearah yang sesuai dengan kesiapan mereka, dan tidak sekedar memaksakan pola-pola eksternal terhadapnya. Sehingga dibutuhkan suatu pembiasaan kepada anak untuk mengenali nilai-nilai moral yang harus dipatuhi untuk menjadi bagian dari masyarakat dan diterima oleh masyarakat itu juga. Silanoi (2012), mengatakan bahwa berbicara, percakapan, dan perdebatan yang digunakan dalam segala bentuk pendidikan moral, tetapi sering fokus adalah membenarkan keputusan moral. Mengetahui moral, yang mencakup kesadaran moral, pengetahuan tentang nilai-nilai moral, tinjauan masa yang akan datang, penalaran moral, pengambilan keputusan, dan kesadaran diri, adalah hal penting yang siswa butuhkan. Menurut Aristoteles lama (dalam Noddings, 2002:40) berpendapat bahwa hanya siswa yang bisa mengambil keuntungan dari pengajaran-Nya, penalaran moral dan teori orang-orang yang sudah memiliki suara karakter dan penghargaan untuk kehidupan moral.

Menurut Cronbach (dalam Rokhman, Hum, Syaifudin, & Yuliati, 2014), Karakter adalah bukanlah sebuah entitas yang terpisah antara kebiasaan dan ide-ide. Karakter aspek perilaku, kepercayaan, perasaan, dan tindakan yang saling terkait satu sama lain sehingga jika seseorang ingin mengubah karakter tertentu, mereka perlu untuk mengatur unsur-unsur dasar karakter mereka.

Berbeda dari Cronbach, Lickona (dalam Rokhman et al., 2014) melihat karakter dalam tiga elemen yang terkait; pengetahuan moral, perasaan moral, dan tindakan moral. Berdasarkan ketiga unsur tersebut seseorang dianggap memiliki karakter yang baik jika mereka tahu tentang hal-hal yang baik (pengetahuan moral), memiliki minat terhadap hal-hal baik (perasaan moral) dan melakukan tindakan yang baik (tindakan moral).

Althof & Berkowitz (dalam MeiJu, Chen-Hsin, & Pin-Chen, 2014) mengusulkan bahwa pendekatan baru bermaksud untuk memasukkan pikiran dan perasaan anak-anak seperti yang disarankan dalam tindakan mereka mengungkapkan, belajar, dan menghargai.

Mencius (dalam Nucci et al., 2014, hal. 34) menganggap bahwa, moralitas sebagai yang menentukan karakteristik manusia. Menurut Mencius, satu tidak bisa dianggap manusia tanpa empat kecenderungan. Pertama, adalah welas asih, yang merupakan asal-usul ren (mencintai orang lain). Kedua, adalah rasa malu terhadap diri Anda dan menyukai kesalahan orang lain, yang merupakan asal-usul yi (kebenaran). Ketiga, adalah untuk memberikan orang lain didahulukan sopan santun dan hormat, yang merupakan asalusul li (kesopanan). Keempat, adalah rasa benar dan salah, yang merupakan asal-usul zhi (kebijaksanaan).

Mencius menganjurkan menjadi bertekad untuk tidak mengubah pikiran karena kepentingan pribadi melainkan untuk menunjukkan tekad dan keberanian dalam hidup. Akhirnya, orang dapat menjadi orang terhormat yang tanpa mengorbankan adat-istiadat sendiri untuk janji-janji kekayaan dan ketenaran, atau diredakan oleh kekuatan dalam situasi di mana orang diminta untuk melakukan sesuatu tidak bermoral. Singkatnya, jantung Konfusianisme adalah gagasan ren, atau mencintai orang lain. Konfusianisme terutama prihatin dengan moralitas dalam hubungan interpersonal dan perilaku, dan mengidentifikasi nilai-nilai yang mencakup berbagai macam hubungan dan perilaku — ren (mencintai orang lain), li (kesopanan), xiao (kesetiaan), ti (cinta dan hormat antara saudara), zhong (kesetiaan), shu (toleransi), yi (kebenaran), zhi (kebijaksanaan), dan xin (integritas). Tujuan dari pendidikan moral dalam Konfusianisme adalah mengolah diri ke seseorang yang ren-sopan, berani, tanpa pamrih, dan penuh kasih terhadap orang lain.

Goleman (dalam Pane & Patriana, 2016) menyatakan bahwa pendidikan karakter dapat dilakukan dengan langkah penciptaan komunitas moral di kelas, dimana pendidikan karakter adalah nilainilai pendidikan yang mencakup aspek pengetahuan (kognitif), perasaan, dan tindakan. Lickona (dalam Pane & Patriana, 2016) menyatakan bahwa dalam setiap karakter menghasilkan nilai pendidikan, dimana terdiri dari tiga komponen dari karakter yang baik,: pengetahuan moral, perasaan moral dan tindakan moral.

Menurut Jhon Dewey (dalam Zubaedi, 2017:395) pelatihan moral yang paling baik dan mendalam dapat dilakukan dengan membiasakan anak saling menjalin hubungan dengan sesama kawannya. Untuk bisa berhasil dalam mengajarkan sikap hormat dan bertanggung jawab, guru harus menjadikan upaya pembentukan komunitas moral di kelas sebagai tujuan pendidikan utama. Anak-anak belajar tentang moralitas dengan cara mempraktikkannya. Mereka harus berada di dalam sebuah komunitasberinteraksi, menjalin hubungan, menyelesaikan masalah, berkembang sebagai sebuah kelompok, dan belajar lansung dari pengalaman sosial yang mereka rasakan sendiri tentang pelajaran, tentang bermain secara adil, kerja sama, memaafkan, dan menghormati harkat dan martabat setiap individual. Ada tiga kondisi dasar yang dapat membentuk komunitas moral di kelas, yakni; Pertama, siswa saling mengenal satu sama lain. Melalui cara ini akan lebih membiasakan siswa untuk mau menghargai oranglain dan merasakan kedekatan. Kedua, siswa saling menghormati, mendukung, dan peduli terhadap satu sama lain. Ketiga, mereka diterima sebagai anggota, dan bertanggung jawab terhadap kelompok.

Menurut Lickona (dalam Zubaedi, 2017:394), langkah penciptaan komunitas moral di kelas terdiri dari tiga kegiatan. Pertama. Membantu para siswa untuk saling mengenal satu sama lain dengan aktivitas; Berpasangan; Direktori kelas; Kantung harta karun; Sahabat pena dengan kelas lain; Undian tempat duduk; Perasaan nyaman atau tak nyaman; Jaket pelindung (untuk saling berbagi aspirasi, pencapaian, dan lain-lain). Kedua, mengajari siswa untuk bersikap saling menghormati, mendukung, dan peduli dengan sesama melalui kegiatan; Membangun empati; Menghentikan kekejaman terhadap anak yang berbeda; Menyelenggarakan kegiatan yang bertajuk apresiasi; Pohon perbuatan baik; Kekuatan kata-kata positif, dan Pelukan menentramkan. Ketiga, membantu siswa membangun perasaan korp sebagai anggota dan rasa tanggung jawab kepada kelompok melalui kegiatan; Membangun kohesi dan identitas kelas melalui macam tradisi dan simbolis; Menumbukan perasaan sebagai sosok yang unik, anggota yang berharga dari sebuah komunitas kelas, melakukan upaya intervensi dalam membantu anak yang dikucilkan agar dapat diterima oleh teman-temannya; Menanamkan rasa tanggung jawab dalam menjunjung tinggi aturan kelompok; Mendorong tumbuhnya etika saling ketergantungan, dengan semangat “siapa yang punya masalah yang bisa dibantu penyelesaiannya oleh kita semua”.

KESIMPULAN

Karakter adalah gabungan dari kebiasaan-kebiasaan yang terus menerus dilakukan dan mengakar kuat dalam kepribadian seseorang. Menanamkan nilainilai karakter pada peserta didik dilakukan dengan pembiasaan-pembiasaan melalui berbagai kegiatan di kelas yang dilakukan secara terus-menerus dan konsisten setiap saat, sehingga peserta didik akan terbiasa melakukan hal-hal yang baik dan benar yang tertanam dalam diri masing-masing peserta didik, tanpa ada reward ataupun hadiah untuk melakukan hal tersebut. Bentuk pembiasaan yang dilakukan seperti inilah dapat menumbuhkan nilai-nilai moral pada setiap peserta didik. Hal ini tentu berawal dari kegiatan-kegiatan yang sederhana yang melibatkan aktivitas keseharian peserta didik yang dimulai dari lingkungan kelas.

DAFTAR PUSTAKA

Ernawati. 2017. Menumbuhkan Nilai Pendidikan Karakter Anak SD melalui Dongeng (Fabel) dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Dasar. Vol.4, No. 1

Hidayat Nur. 2016. Implementasi Pendidikan Karakter Melalui Pembiasaan di Pondok Pesantren Pabelan. Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar, Vol. 2. No. 1

Mei-Ju, C., Chen-Hsin, Y., & Pin-Chen, H. (2014). The Beauty of Character Education on Preschool Children’s Parent-child Relationship. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 143, 527–533.

Milanovira, “Tujuh Kebiasaan yang Baik Menurut Stephen R. Covey”, artikel dalam Milamashuri.wrodpress.com Dipublikasikan 20/08/2010, http://milamashuri.wordpress.com/ 2010/08/20tujuh kebiasaan- yangbaik-menurut-stepehen-r-covey/

Nucci, L., Narvaez, D., & Krettenauer, T. (2014). Handbook of Moral and Character Education. Handbook of Moral and Character Education Second (2nd ed., Vol. 2). New York: Routledge.

Pane, M. M., & Patriana, R. (2016). The Significance of Environmental Contents in Character Education for Quality of Life. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 222, 244– 252.

Rokhman, F., Hum, M., Syaifudin, A., & Yuliati. (2014). Character Education for Golden Generation 2045 (National Character Building for Indonesian Golden Years). Procedia - Social and Behavioral Sciences, 141, 1161–1165.

Saptono .2011. Dimensi-dimensi Pendidikan Karkter (wawasan, strategis, dan langkah praktis). Erlangga.

Silanoi, L. (2012). The Development of Teaching Pattern for Promoting the Building up of Character Education Based on Sufficiency Economy Philosophy in Thailand. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 69 (Iceepsy), 1812–1816.

Supiana, Sugiharto Rahmat. 2017. Pembentukan Nilai-nilai Karakter Islami Siswa Melalui Metode Pembiasaan. Jurnal Education Vol.01, No.01

Noddings, N. (2002). Educating Moral People; A Caring Alternative to Character Education. New York: Teachers College Press.

Supraptiningrat, Agustini. Membangun Karakter Siswa Melalui Budaya Sekolah di Sekolah Dasar. 2015. Jurnal Pendidikan Karakter, Tahun V, No. 2

Zubaedi. 2017. Strategi Taktis Pendidikan Karakter (untuk PAUD dan Sekolah). Depok: PT Raja Grafindo Persada

Ditulis ulang oleh Adi Kuswanto, S.Pd
DIambil dari Sumber